Editor Jurnal Amatir Part-1

Pada saat saya lulus S1 saya diajak bergabung dengan Almamater saya yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Lampung sekitar tahun 2015 sebagai berkah telah dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik saat itu. 

Pada awal mulai saya bergabung saya ditugaskan untuk langsung mengelola Jurnal As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan, padahal sebelumnya saya tidak pernah berkecimpung dalam dunia penjurnalan ilmiah atau dalam bahasa jawa dikenal istilah “Nol Putol Babar Blas Ora Ngerti

Adanya tanggung jawab baru tersebut bermula dari pengelola jurnal lama yang pada waktu itu tidak aktif kembali di kampus saya. Jurnal As-Salam pada waktu awal saya kelola dalam posisi telat edisi, tidak ada naskah masuk dan saya sendiri tidak tahu bagaimana mengelolanya karena tidak ada partner untuk bertanya dan tidak pula memiliki pengalaman sedikitpun dalam mengelolanya.

Jika jurnal diibaratkan sebuah mobil maka mobil itu kehabisan bensin, ban nya bocor ditambah lagi saya supir yang belum bisa menyetir, ha…ha…ha…”Ancur Wes“. Sebagai seorang sarjana muda tentu jika diibaratkan maka saya adalah seorang petarung yang baru saja turun gunung, semangat saya masih menggebu-gebu dan memiliki semangat juang yang tinggi. 

Pada kondisi tersebut saya mengupayakan hal sederhana apa yang bisa saya lakukan agar Jurnal As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan dapat eksis kembali seperti dulu. Agar rantai estafet penyebaran hasil penelitian dapat tersambung kembali melalui jurnal ilmiah, sehingga mampu memberikan dampak manfaat kepada masyarakat luas.

Hal yang perlu saya apresiasi sebagai ucapan terima kasih atas segala kesempatan ialah kepada ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Lampung yang telah mempercayai saya, yang hanya seorang amatir, sebagai seorang pengelola jurnal. Jika hal ini disebabkan karena tidak ada orang sama sekali ya saya tidak tau he…he..he.

Namun yang jelas hal tersebut saya nilai sebagai tantangan dan kesempatan untuk saya mengembangkan diri dalam hal yang benar-benar baru bagi saya waktu itu. Seiring berjalannya waktu kemudian mulai ada naskah yang masuk meskipun selalu kurang dalam jumlah yang cukup untuk satu nomor terbitan saja. 

Akhirnya saya mulai mencari informasi di internet tentang bagaimana cara menyunting naskah yang baik, singkat cerita saya mulai menyunting naskah artikel yang dikirimkan oleh para dosen al hasil setelah diterbitkan ternyata ada dosen yang tidak puas dengan hasil suntingan saya singkat cerita saya kena caci maki ha..ha..ha. 

Pada saat itu saya tidak terlalu berpikir banyak, saya sedang lanjut S2 sedangkan para penulis jurnal rata-rata telah berpendidikan S2 wajar saja mereka tidak puas dengan suntingan saya. Berbicara pengelolaan jurnal di kampus swasta jangan disamakan dengan di kampus negeri, jauh beda woy. Seharusnya sama saja jika standarnya “sudah berkualitas” namun jika berbicara konteks cikal bakal jurnal tentu hal ini sangat berbeda jauh.

Singkat cerita saya juga mulai ogah-ogahan untuk melakukan sunting naskah wajar junior takut kena marah senior ha..ha..ha, pada akhirnya jurnal hanya saya kelola yang penting layout rapi dan sesuai dengan template saja terkait konteks isi saya nggak peduli daripada kena marah lagi. Hal ini saya lakukan khusus bagi penulis yang berasal dari dalam kampus.

Jika penulis berasal dari luar kampus tetap saya sunting dengan kaidah yang ada ha..ha..ha, sok bisa kan. Jurnal As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan menggeliat bangkit meski kedudukannya hanya sebatas terbit semata dan mengejar ketertinggalan edisi dan hal ini kurang lebih berjalan selama 1 tahun. 

Pada tahun 2015 akhir saya mulai sering membaca artikel-artikel tentang Open Journal System (OJS) sebuah CMS pengelolaan jurnal, sangking seriusnya saya belajar setiap artikel tersebut saya print untuk saya pelajari satu persatu dan step by step agar saya benar-benar memahami tentang Open Journal System (OJS) tersebut.

Kegigihan saya ternyata membuahkan hasil pada tahun 2016 tepatnya pada bulan februari saya bisa menginstall aplikasi OJS tanpa kursus dan hanya mengandalkan artikel yang saya print out. Saya yang tidak ada baground IT terpaksa belajar tentang IT lewat internet ha…ha…ha.

Hal ini saya lakukan karena IT adalah cabang keilmuan yang harus saya kuasai untuk mendukung tugas saya sebagai editor jurnal. Parahnya lagi saya mengelolanya hanya seorang diri dengan rangkap jabatan atau multi fungsi, singkat cerita akhirnya saya bisa install OJS versi localhost dengan aplikasi bantuan berupa xampp. 

Pada waktu itu saya senangnya bukan main sebab saya belajar xampp serta mendalami penggunaannya menggunakan waktu yang kurang lebih 6 bulan sampai 1 tahun, maklum hanya belajar mandiri dan ga da tempat bertanya ditambah lagi hanya modal ulet doank cerdasnya tidak ha…ha…ha.

Setelah berhasil install OJS di localhost xampp masalah muncul lagi yaitu “bagaimana menggunakan OJS ini’ akhirnya lagi-lagi cari artikel yang berkaitan dengan OJS meskipun belum banyak berseliweran di internet namun ada beberpa artikel yang dapat membantu saya untuk memahaminya step by step. 

Masalah berikutnya ialah kenapa OJS nya tidak bisa diakses dari internet ternyata jika akan diakses lewat internet harus memiliki hosting dan domain yang pada waktu itu kampus-pun belum punya dan akhirnya ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Lampung sangat mensupport demi kemajuan kampus dengan membuatkan kampus website dengan hosting dan domain resmi tidak memakai yang gratisan lagi.

Setelah hosting dan domain dimiliki dengan bantuan pihak ketiga ternyata muncul lagi masalah, saya tidak bisa install ojs di hosting kampus ha…ha…ha, meskipun saya sudah berkali-kali install ojs di localhost xampp sampai susah menghitung jumlahnya ternyata caranya sangat berbeda ketika diinstall di hosting dengan domain berbayar.

Akhirnya saya belajar lagi karena kembali lagi saya tidak ada partner untuk bertanya dan pengalaman tentang IT. Modal termurah untuk belajar ya membaca artikel tentang hal-hal yang saya anggap sebagai sebuah permasalahan dan dari membaca artikel tersebutlah saya aplikasikan dalam dunia nyata dan akhirnya gagal, gagal, gagal dan gagal lagi.

Karena bosan saya tinggal dan nggak saya urus sampai beberapa hari ha…ha…ha. Namun kembali lagi semakin saya tidak sukses saya semakin terpancing untuk mensukseskannya modalnya ya cuma ulet saja dan prinsip belajar saya adalah “Trial & Sukses” bukan ” Trial & Error” dan mungkin karena sangking lamanya saya belajar eh… ternyata sukses juga, saya berhasil menginstall ojs di hosting dengan domain kampus yang keren itu. 

Jangan anda tanya senengnya kayak apa pokoknya seneng banget meski apresiasi itu hanya dari hati saya sendiri ha..ha..ha. Jangan tanya berapa jam saya menghadap laptop baik dirumah atau di kampus hampir 24 jam setiap hari tanpa hari libur ha…ha…ha, sok sukses pokoknya, karena orang lain melihat saya bekerja pada waktu itu sampai tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, karena saya benar-benar ingin bisa dan menguasai ilmunya.

Setelah OJS terinstall di hosting dengan ratusan uji coba ternyata masalah muncul lagi yaitu tampilan OJS saya standar banget, kenapa tidak sebagus milik kampus-kampus besar lain. Sengaja saya padankan dengan kampus besar sebab jika saya padankan dengan kampus yang setara maka tentu saya tidak memiliki semangat untuk mengupgrade OJS atau jurnal yang saya kelola pada waktu itu. 

Saya cek satu persatu OJS kampus-kampus yang bonafit baik di kementerian agama maupun di kemenristekdikti pada waktu itu. Akhirnya kembali lagi saya mengandalkan artikel-artikel di internet untuk merubah tampilan OJS saya yang pada waktu itu masih menggunakan OJS 2 dan memanfaatkan theme-theme OJS yang dibagikan gratis oleh para programer.

Alhamdulillah custom OJS saya berbuah manis, tampilan OJS saya berubah menjadi lebih bagus dan sangat menarik bagi saya ha…ha…ha. Setelah tampilan OJS bagus, indah dan menarik perhatian ternyata masalah muncul lagi yaitu website kampus dan website ojs kena defacer.

Pada waktu itu tampilan website ojs di-deface dengan menggunakan tampilan seseorang yang sedang putus cinta beserta gambar yang mendukungnya. Singkat cerita saya pusing karena tidak tau cara mengembalikannya seperti semula ha…ha…ha, maklumlah saya bukan orang IT asli.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × four =