Makna Kehidupan yang Terlupakan

Makna Kehidupan yang Terlupakan

Saat sedang melakukan maintenance printer yang biasa saya gunakan terkadang saya harus mengorbankan banyak tisu untuk mengelap tinta cartridge yang belepotan, maklum saya bukan ahlinya dalam hal tersebut, tentu resiko utamanya adalah tinta belepotan dan printer semakin rusak. 

Selain mengorbankan tisu saya juga sudah pasti mengorbankan kertas untuk mencoba apakah printernya sudah normal kembali atau masih perlu diperbaiki lagi, dalam kegiatan ini tentu ada beberapa kertas yang harus menjadi korban uji coba. Pada saat printer sudah normal kembali tentu akan menyisakan sampah tisu dan kertas yang digunakan sebagai media maintenance printer tersebut agar dapat normal kembali.

Saya selalu menyimpan kertas bekas tersebut meskipun saya tahu bahwa kertas tersebut tidak akan saya gunakan untuk mencetak sebuah dokumen, namun saya meyakini kertas tersebut masih dapat memberikan sebuah manfaat yang lain. Kertas tersebut biasanya saya berikan kepada anak saya yang berusia 2,5 tahun yang mulai hobi memainkan alat tulis dengan karya benang kusutnya yang begitu mewah dan penuh makna baginya. 

Anak saya merasa senang karena ada media untuk menyalurkan naluri ilahiah belajarnya meskipun masih dalam bentuk yang sederhana dan tidak beraturan, begitu juga dengan saya yang merasa bersyukur dapat memanfaatkan apa yang saya beli dengan semaksimal mungkin dan dapat menemani anak saya membuat coretan kehidupan yang penuh makna.

Ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui bahkan tentang takdir diri kita sendiri terlebih pada takdir kehidupan orang lain. Kehidupan dunia ini sering mengejutkan kita dengan takdir baik dan buruknya bahkan apa yang kita harapkan dan kita cita-citakan hanya menjadi lamunan semu sedangkan hal-hal yang kita benci atau tidak pernah kita pikirkan justru tergambar menjadi sebuah kenyataan. 

Hal ini terkadang membuat seseorang menjadi berputus asa dan memaki jalan takdir kehidupannya, atau mungkin kita justru menjadi pelaku yang memandang rendah jalan takdir kehidupan orang lain, padahal setiap apa yang telah terjadi dalam kehidupan ini ada nilai kebaikan di dalamnya, entah itu sebagai peringatan dan pelajaran atau sebagai sarana kasih sayang Allah kepada hambanya.

Ada sebuah ungkapan yang mungkin sampai detik ini kita terlupa olehnya atau kita ingat namun sengaja melupakannya atau barangkali kita belum mengetahuinya. Ungkapan tersebut Allah abadikan dalam kitab sucinya Al-Qur’anul Karim dalam surat Az-Zariyat ayat 56 sebagai berikut :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

artinya : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Ayat di atas menggambarkan bahwa hakikat manusia diciptakan ialah untuk menjadi hamba Allah yang taat dan patuh terhadap apa yang diperintahkan Allah, menjauhi apa yang dilarang, bersabar atas segala ujian yang diberikan dan bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Berdasarkan ayat di atas hendaknya kita sebagai manusia senantiasa menyikapi apa yang sudah terjadi dengan berhusnudzon kepada Allah bahwa semua hal yang telah terjadi memiliki nilai kebaikan di dalamnya dan berhati-hati atau merencanakan dengan baik atas apa yang akan kita lakukan dalam menggapai masa depan.

Serumit apapun jalan kehidupan kita hari ini yakinlah bahwa kita diberi kekuatan untuk dapat mengatasinya dengan baik asalkan sabar, ulet dan tekun menjadi sahabat karib kita. Sehancur apapun gelombang takdir menghantam jalan kehidupan kita yakinlah Allah punya skenario indah yang disimpan untuk kehidupan akhirat kita asalkan kita tetap berada dalam jalur keimanan dan ketaqwaan yang hak. 

Sebagaimana kertas bekas yang seolah tak berguna ternyata memiliki banyak manfaat dan makna jika dilihat dari sudut pandang yang lain. Sudah saatnya kita memakai kacamata kebaikan untuk melihat setiap takdir yang kita terima maupun takdir yang diterima orang lain terlepas itu baik maupun buruk agar kita tidak kehilangan makna kehidupan yang sebenarnya.

Wallahu A’lam

Pekanbaru, 14 Juli 2022

Nur Kholis, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

four + 15 =