Masjid Ramah Menjadi Rumah Umat

Masjid Ramah Menjadi Rumah Umat

Masjid secara sederhana dapat dimaknai sebagai tempat ibadah umat islam, meskipun ritual ibadah umat islam tidak selalu dilakukan di dalam masjid. Pada masa Rasulullah SAW Masjid memiliki fungsi vertikal dan horizontal. 

Fungsi vertikal diwujudkan sebagai wahana mendekatkan diri kepada sang pencipta seperti ritual ibadah shalat, dzikir dan ritual ibadah yang lainya. Sedangkan fungsi horizontal masjid difungsikan sebagai wahana dalam mengurus politik keumatan sehingga senantiasa terbuka untuk umat.

Jika kita melihat beberapa realita saat ini banyak masjid yang mulai dikerdilkan fungsinya oleh pengurus masjid dengan fungsi vertikal semata, bahkan ironisnya masjid seolah dijadikan sebagai museum religius hal ini dapat dibuktikan ketika masjid hanya dibuka pada saat jam sholat saja dan setelah itu masjid dikunci rapat oleh pengurusnya dan tidak diperkenankan masuk jika tidak waktu shalat tiba. 

Jika karena ada pandemi mungkin hal ini bisa dimaklumi namun jika tidak ada alasan yang kuat lantas mengapa masjid dikunci rapat-rapat. Keberadaan masjid yang demikian rasanya tidak sejalan dengan semangat gotong royong pembangunan masjid yang hampir mayoritas dibangun menggunakan dana umat. 

Keberadaan masjid yang demikian terkadang memberikan kekecewaan kepada umat muslim sendiri terutama pada saat sedang melakukan perjalanan jauh untuk digunakan sebagai tempat shalat sekaligus beristirahat.

Mindset bagi seorang muslim masjid adalah tempat yang teduh, maka sangat mungkin seorang muslim yang sedang melakukan perjalanan jauh melakukan istirahat di masjid. Namun terkadang banyak muslim yang kecewa karena masjid dikunci dan akhirnya hanya bisa shalat di serambi masjid saja. 

Padahal jika masjid menjadi tempat yang ramah tanpa dikunci tentu seorang muslim yang sedang berada dalam perjalanan jauh tidak akan khawatir dirinya atau keluarganya akan singgah di tempat aman yang mana, sebab masjid telah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap umatnya.

Para pengurus masjid yang melakukan tindakan mengunci masjid tentu juga memiliki alasan yang kuat mengapa hal tersebut dilakukan. Alasan yang paling kuat adalah alasan keamanan masjid sebab saat ini marak sekali terjadi pencurian kotak amal, selain itu alasan kebersihan masjid yang terkadang jama’ah terlalu abai terhadap kebersihan masjid dengan mengunci masjid tentu kedua hal ini akan menjadi terminimalisir. 

Akan tetapi ada sebuah terobosan yang jitu untuk mengkompromikan kedua permasalahan di atas yaitu : Pertama mental dan kepiawaian pengurus masjid dalam mengelola dan menjaga kotak amal perlu ditingkatkan dengan cara mengosongkan kotak amal setiap kali akan ditinggal beristirahat atau tidak membiarkan kotak amal dalam kondisi terisi untuk menghindari terjadinya pencurian kotak amal yang merugikan keuangan masjid. 

Kedua Jama’ah masjid terlepas musafir ataupun bukan harus senantiasa menjaga kebersihan masjid, seandainya masjid digunakan sebagai tempat beristirahat dalam sebuah perjalanan, agar kondisi ini memberikan kenyamanan bagi pengurus masjid dan jama’ah masjid karena keduanya bersama-sama menjaga kebersihan masjid sehingga muncul sikap saling percaya. 

Ketiga pengurus masjid harus memiliki jiwa yang besar dalam artian tidak mengeluh dengan kondisi masjid setelah digunakan oleh jamaah seandainya masjid menjadi kotor dan berantakan sebab dengan adanya jiwa yang besar justru hal tersebut menjadi ladang pahala bagi pengurus masjid untuk merawat masjid dengan cara membersihkannya dengan senang hati.

Pekanbaru, 18 Maret 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

three × 2 =