Masjid Siapa ?

Hakikat Masjid

Masjid dimaknai dengan berbagai macam makna yang diharapkan atau dikehendaki oleh manusia itu sendiri. Ada yang memaknai masjid sebagai tempat suci, tempat ibadah, dan rumah Allah. Berdasarkan pemaknaan tersebutlah manusia mengejawantahkan pemikirannya dalam bersikap ketika berada di dalam sebuah masjid terutama ketika mereka beribadah. 

Pengkultusan sebagai tempat suci terkadang menimbulkan beberapa sikap yang kontras terhadap esensi keberadaan masjid itu sendiri. Salah satu bukti nyata ialah tatkala keberadaan anak-anak di sebuah masjid yang terkadang dinilai sebagai sebuah ancaman bagi orang-orang dewasa. 

Berdasarkan hal tersebut maka tak jarang anak-anak menjadi kambing hitam ketidak khusyukan sholatnya para jamaah yang notabennya mayoritas adalah orang dewasa, sehingga amarah orang-orang dewasa tak jarang dilayangkan kepada anak-anak. Padahal sudah menjadi pemahaman yang umum anak-anak adalah manusia yang akalnya belum sempurna, hobinya bermain dan sering abai ketika diingatkan.

Fakta Problematika

Hal ini yang juga barusan saya saksikan pada saat kegiatan sholat jum’at berlangsung, seorang khatib datang ke masjid untuk melaksanakan kewajiban dan tugasnya sebagai khatib dan sebagai orang tua untuk mengenalkan ibadah sholat jum’at kepada anak laki-lakinya kurang lebih berusia 4-5 tahun. 

Pada saat sang khatib berada di atas mimbar lantas anaknya yang tadinya bermain di serambi masjid tiba-tiba masuk kedalam masjid dan menuju ke arah ayahnya yang sedang berada di atas mimbar. Pada waktu tersebut sang khatib belum melakukan khutbahnya, sebab menunggu adzan kedua selesai sebagaimana kebiasaan kami melaksanakan shalat jum’at di masjid-masjid yang mayoritas jama’ahnya berorganisasi Nahdlatul Ulama’ (NU).

Jama’ah yang mengetahui anak tersebut menyusul ayahnya di atas mimbar langsung saja menyahut anak tersebut dan membawanya ke arah keluar ruangan masjid. Sontak anak tersebut menolak dan menangis meronta-ronta padahal dalam pengamatan saya yang menyaksikan peristiwa tersebut anak tersebut hanya ingin mendekati ayahnya saja, tidak nampak anak tersebut mengganggu tugas ayahnya sebagai seorang khatib. 

Saya rasa sangat wajar di sebuah lingkungan baru bagi anak tersebut untuk tetap dekat dengan ayahnya barangkali bersama orang yang dikenal adalah bentuk perwujudan rasa aman dan nyaman bagi anak tersebut. Akhirnya selama proses khutbah berlangsung sampai selesai anak tersebut terdengar menangis dengan sangat kencang di serambi masjid dan berusaha merangsek masuk ke masjid namun dihalang-halangi jama’ah yang membawanya keluar tersebut, bahkan terdengar pintu masjid ditutup dengan sangat keras “Dia..rrrr !”.

Dampak Negatif

Adanya peristiwa tersebut tentu menyebabkan beberapa hal negatif; Pertama pada diri sang anak tentu dia akan merasa trauma untuk ikut melaksanakan shalat jum’at bersama ayahnya; bisa jadi sang anak akan berfikir kenapa orang-orang yang ada di masjid sangat kejam pada dirinya sedangkan yang ingin ia dekati adalah ayahnya sendiri.

Kedua sang ayah yang bertugas menjadi khatib tentu merasa tidak nyaman karena mendengar anaknya menangis meronta-ronta yang tentunya hal ini akan mengganggu kekhusyuan sang khatib dalam menyampaikan khutbahnya. 

Ketiga Jama’ah shalat jum’at menjadi tidak fokus mendengarkan khutbah, hal ini disebabkan karena adanya pro kontra terhadap apa yang dilakukan oleh beberapa jama’ah yang mencoba menjauhkan anak tersebut dari ayahnya karena dirasa mengganggu padahal belum terbukti mengganggu tugas sang ayah dalam melakukan khutbahnya. 

Keempat Mulgha Nya jum’atan jama’ah yang mencoba menjauhkan anak tersebut dari ayahnya karena tidak mendengarkan khutbah dan malah melakukan aktivitas lain yang dilarang dalam aturan shalat jum’at.

Akar Permasalahan

Jika melihat uraian di atas tentu permasalahan akan mengerucut pada dua hal; pertama adanya su’udzon dari beberapa jama’ah yang menganggap anak kecil akan mengganggu orang dewasa dalam melaksanakan ibadah jum’at. 

Kedua ketidak tepatan waktu orang tua mengenalkan ibadah shalat jum’at yang bebarengan saat dirinya bertugas sebagai khatib sedangkan anak tersebut baru pertama kali ikut ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at.

Mengatasi Problem

Berdasarkan hal tersebut sebaiknya kita sebagai orang dewasa yang berpikir waras harus menghilangkan fikiran atau prasangka bahwa anak kecil yang ada di masjid hanya mengganggu ibadah orang dewasa atau dalam bahasa yang sederhana hanya membuat keributan di dalam masjid. 

Pemikiran semacam ini sangat membahayakan bagi keberlangsungan islam kedepan, utamanya bagi generasi penerus kita, sebab adanya pemikiran semacam ini akan menghasilkan sebuah tindakan yang menyebabkan anak-anak trauma berada di masjid, misalnya kita memarahi anak-anak, mengancamnya atau bahkan malah melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak. 

Jika kita melihat zamanya atau masanya tentu hal-hal tersebut tidak lagi manjur untuk membentuk pribadi anak-anak agar berubah menjadi lebih baik. Coba kita lihat keramahan para penjaga warnet dan penyedia game-game online kepada anak-anak yang menggunakan jasa mereka tentu anak-anak akan membandingkannya karena mereka telah mengalaminya.

Selanjutnya, bagi orang tua tentu bukanlah sebuah kesalahan ketika akan mengenalkan anaknya pada agama yang benar sebagaimana contoh di atas dengan mengenalkan shalat jum’at kepada anak-anaknya, justru hal ini adalah kewajiban orang tua untuk memberikan contoh dan memberikan pendidikan yang baik tentang agamanya. 

Namun yang menjadi catatan ialah sesuaikan dan pertimbangkan situasi dan kondisinya terlebih dahulu, jangan asal di bawa ke masjid saja sebab jika demikian malah akan bernilai sebaliknya bagi si anak. Anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang bagus di masjid justru malah mendapatkan trauma dan penyesalan ketika datang ke masjid.

Jika kedua unsur tersebut terpenuhi dengan baik tentu saja keberlangsungan generasi yang islami akan terwujud dengan baik; orang dewasa tidak hanya hadir sebagai hakim bagi kesalahan anak-anak semata namun sebaliknya orang dewasa hadir sebagai teladan dan memberikan pendidikan yang ramah dan santun kepada anak-anak.

Sehingga anak-anak akan merasa aman, nyaman dan damai ketika pergi ke masjid. Bukan malah sebaliknya anak-anak akan merasa was-was ketika berada di masjid karena akan dihakimi oleh para orang-orang dewasa yang sok khusyu’ itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *