Romantisme Ramadhan di Negeri Melayu

Romantisme Ramadhan di Negeri Melayu

Islam hadir sebagai agama penyempurna atas agama-agama orang terdahulu dengan rasul pembawanya adalah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Kehadiran islam di bumi gersang jazirah arab ternyata tidak serta merta diterima dengan baik oleh penduduk sekitar meskipun yang membawa ialah seseorang yang terkenal jujur dan tidak satupun penduduk disana yang meragukan kejujurannya. 

Pada konteks ini tentu ada nilai tarbiyah bagi kita saat ini dalam rangka berjuang memegang tongkat estafet perjuangan rasulullah SAW yakni bersabar atas segala ujian yang menerpa kita. Sebab kita bukan orang yang terkenal kejujurannya seperti Rasulullah SAW, maka ujian tersebut sangat layak kita hadapi saat ini. Oleh sebab itu mari sama-sama kita tidak berputus asa atas rahmat Allah SWT yang sangat luas membersamai kita.

Berbicara tentang Islam tentu tidak akan habis dikaji hanya dalam hitungan tahun saja, oleh sebab itu melalui artikel ini saya ingin memotret serpihan corak islam di negeri melayu pada saat bulan suci ramadhan, dengan fokus yang mengerucut pada kaifiyah pelaksanaan shalat tarawih yang terjadi di masjid yang dekat dengan tempat tinggal saya saat ini. 

Artikel ini ditulis dengan harapan memiliki nilai kontribusi yang positif bagi para pembaca atau umumnya umat islam. Adanya artikel ini tidak dimaksudkan untuk menjelekkan atau memandang rendah kelompok tertentu namun jika terjadi sebuah perbedaan tentu ini adalah sebuah keniscayaan meskipun hakikatnya dengan esensi yang sama.

Ketika dulu saya ada di kampung hadirnya bulan suci ramadhan sangat identik dengan adanya bunyi petasan yang dimainkan anak-anak dimana-mana. Meskipun saat ini hal tersebut sudah jarang ditemui mengingat petasan adalah mainan berbahaya sehingga dilarang oleh pemerintah. 

Indikator lain yang menandakan ramadhan sudah akan tiba juga ditandai dengan banyaknya masyarakat yang menggelar acara “megengan” yaitu sebuah acara “kenduri” dengan mengundang tetangga sekitar untuk dimintai bantuan membacakan doa yang diakhiri dengan pemberian sedekah oleh tuan rumah dalam bentuk “berkat” (makanan yang dimasak dengan aturan tertentu sesuai dengan adat jawa). Selain itu indikator ramadhan sudah dekat juga ditandai dengan banyaknya masyarakat yang “nyekar” /berziarah di makam orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Berdasarkan indikator di atas yang dikaji melalui alur kacamata budaya, maka di negeri melayu ini ada beberapa hal yang mirip dalam budaya menyambut bulan suci ramadhan yakni suara petasan dan ziarah kubur ke makam orang tua atau saudara yang telah meninggal dunia. 

Akan tetapi acara-acara “megengan” dalam mempersiapkan diri menghadapi bulan suci ramadhan tidak saya temui selama hampir satu bulan berada disini. Hal ini tentu tidak menjadi masalah mengingat acara megengan sendiri adalah adat budaya orang-orang jawa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan suci ramadhan.

Selain fenomena di atas dalam praktik ibadah shalat tarawih di kampung saya, biasanya dilakukan setelah imam selesai melaksanakan shalat ba’diah isya’ tanpa jeda acara tertentu. Sedangkan disini shalat tarawih dilakukan setelah acara mau’idhah hasanah yang berlangsung selama 15-20 menit setelah shalat ba’diah isya’ dilakukan dengan mengundang berbagai mubaligh yang ada di negeri melayu ini.

Maka tidak heran jika anggaran per malam di sebuah masjid yang ada disini mulai dari 650.000 rupiah sampai 800.000 rupiah untuk masjid-masjid kecil yang ada di desa. Pada saat melaksanakan shalat jum’at saya berkesempatan mendapatkan informasi bahwa dalam satu bulan suci ramadhan masjid bisa menghabiskan anggaran 20-25 juta rupiah untuk menghidupkan malam-malam ramadhan, subhanallah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

3 × 1 =